PERSEPSI GURU TENTANG PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

PERSEPSI GURU TENTANG PENGARUH KEPEMIMPINAN

KEPALA SEKOLAH DAN KREATIVITAS KINERJA GURU

TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA MENGAJAR GURU

(Pada Sekolah Dasar di Kecamatan Cihideung

Kota Tasikmalaya)

Oleh:

Achmad Patoni

Abstrak

Tugas Keprofesionalan Guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar serta tugas-tugas guru dalam kelembagaan merupakan bentuk kinerja guru. Apabila kinerja guru meningkat, maka berpengaruh pada peningkatan kualitas keluaran atau output-nya.   Kinerja guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah, baik itu kepala sekolah, iklim sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Pidarta (dalam Saerozi, 2005:2): “Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu : a ) Kepemimpinan kepala sekolah, b) Iklim sekolah, c) Harapan-harapan, dan d) Kepercayaan personalia sekolah”.

Fokus penelitian dalam tesis ini adalah seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran nyata tentang: (1) kepemimpinan kepala sekolah; (2) kreativitas kinerja guru; dan (3) besarnya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

 

 

Kata Kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kreativitas Kinerja Guru, Efektivitas  Kinerja Mengajar Guru

Pendahuluan

Berdasarkan hasil studi PERC (Political and Economy Risk Consults) 2001 tentang  pendidikan, Indonesia menempati urutan terakhir  dari 12 negara di Asia. Dalam hal ini Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan sebagainya lagi-lagi berada di atas kita (Uno, 2006:130). Dengan demikian, menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah. Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional.  Dampak dari rendahnya kualitas sumber daya manusia juga menjadi penghambat bagi suatu bangsa  dalam persaingan mutu di era globalisasi. Muara dari fenomena tersebut,  sebuah bangsa   bisa tidak berdaya dalam percaturan global.

Pengaruh globalisasi melahirkan suatu persaingan ketat guna  meraih  keberhasilan di pasar bebas. Untuk dapat bersaing di pasar bebas diperlukan sumber daya manusia yang  kompetitif dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Realita menunjukkan, sampai saat ini Indonesia masih tertinggal dengan negara tetangga dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Wacana tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam dalam peningkatan sumber daya manusia. Dengan pendidikan, sumber daya manusia dapat berkembang dan ekonomi secara makro dapat tumbuh pesat.

Manusia merupakan sumber daya terpenting dalam mencapai keberhasilan organisasi pendidikan. Sumber daya manusia akan terwujud dalam karya, bakat, kreativitas, dan efektivitas kinerja sebuah organisasi. Secanggih apa pun program, baik yang menyangkut aspek pendidikan, ekonomi, maupun teknologi, tanpa adanya sumber daya manusia yang handal, tujuan organisasi pendidikan mustahil tercapai. Oleh karena itu, peningkatan serta pengembangan sumber daya manusia memiliki peran strategis dalam peningkatan mutu organisasi.

Sumber daya manusia dalam organisasi diharapkan mampu menunjukkan perilaku  profesionalisme yang tinggi dan sifat kepemimpinan yang harmoni, sehingga manajemen dalam organisasi  mampu menciptakan kreativitas dan efektitivitas kinerja yang tinggi.

Berkenaan dengan hal tersebut, kepemimpinan seorang kepala sekolah sedikit banyak dapat mempengaruhi pendidikan di lingkungan sekolah. Sekolah juga membutuhkan figur seorang pemimpin yang siap bekerja keras untuk dapat memajukan sekolah demi peningkatan mutu pendidikan di lingkungan sekolah yang dipimpinnya. Faktor lain yang berperan mempengaruhi pendidikan adalah kinerja guru. Seorang guru dituntut untuk dapat memberikan andil yang besar terhadap pendidikan di lingkungan sekolah terutama dalam hal belajar. (http://one.indoskripsi.com/node/3359)

Dalam hal ini, kepemimpinan dapat berperan melindungi beberapa isu pengaturan organisasi yang tidak tepat, seperti: distribusi kekuasaan yang menjadi penghalang tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam sumber, prosedur yang dianggap buruk, dan sebagainya. Oleh karena itu, peranan sentral kepemimpinan dalam organisasi dan dimensi-dimensi kepemimpinan yang bersifat kompleks, perlu dipahami dan dikaji secara terkoordinasi sehingga peranan kepemimpinan dapat dilaksanakan secara efektif.

Saat ini pembangunan pendidikan nasional belum mencapai hasil sesuai yang diharapkan. Depdiknas selaku pemegang amanah pelaksanaan sistem pendidikan nasional memiliki kewajiban untuk mewujudkan misi pembangunan. Perspektif pembangunan pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mengembangkan aspek intelektual saja melainkan juga watak, moral, sosial dan fisik perserta didik, atau dengan kata lain menciptakan manusia Indonesia seutuhnya.

Seiring  dengan  pesatnya  perkembangan  masyarakat dan meningkatnya tuntutan akan mutu  pendidikan. Depdiknas bersama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (Bappenas) selaku badan yang  melakukan perencanaan nasional, berusaha menuangkan program-program Depdiknas kedalam 15 program. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Tahun 2005-2025, Pemerintah mencanangkan peningkatan kemampuan manusia bangsa ini, sehingga memiliki daya saing yang seimbang dengan bangsa-bangsa lain di dunia (Renstra Depdiknas, 2005).

Fenomena di atas merupakan  upaya pemerintah dalam menata sumber daya manusia, baik dari aspek  intelektual, spiritual, kreativitas, moral, maupun tanggung jawab.  Mulyasa (2004:4) menyatakan: “Penataan sumber daya tersebut perlu diupayakan secara bertahap dan  berkesinambungan melalui sistem pendidikan yang berkualitas baik pada jalur pendidikan formal, informal, maupun non formal, mulai dari pendidikan dasar  sampai pendidikan tinggi”.

Lebih lanjut  beliau mengemukakan  tentang pentingnya pengembangan sistem pendidikan yang berkualitas. Karena berbagai indikator menunjukkan bahwa pendidikan yang ada belum mampu menghasilkan sumber daya yang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan pembangunan. Sementara itu, Sardiman (2005:125) mengemukakan:

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahkan dan menuntun siswa dalam belajar. Kelengkapan dari jumlah tenaga guru dan kualitas guru tersebut akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar, yang berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu guru dituntut lebih profesional dalam menjalankan tugasnya.

 

Tugas Keprofesionalan Guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen adalah merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar serta tugas-tugas guru dalam kelembagaan marupakan bentuk kinerja guru. Apabila kinerja guru meningkat, maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas keluaran atau output-nya.   Oleh karena itu, perlu dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kinerja guru. Kinerja guru akan menjadi optimal bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah, baik itu kepala sekolah, iklim sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Pidarta (dalam Saerozi, 2005:2) mengemukakan: “Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu: a ) Kepemimpinan kepala sekolah, b ) Iklim sekolah, c ) Harapan-harapan, dan d ) Kepercayaan personalia sekolah”.

Dengan  demikian,  tampak bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan  iklim sekolah akan ikut menentukan baik buruknya kinerja guru.

Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan
kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Mulyasa (2004:25) mengemukakan:

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam  meningkatkan  kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien.

Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya yang diterapkan dalam pendidikan di sekolah juga cenderung bergerak semakin maju, sehingga menuntut penguasaan secara profesional. Menyadari hal tersebut, setiap kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan berkesinambungan. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi yang sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah harus memiliki kemampuan administrasi, memiliki komitmen tinggi, dan luwes dalam melaksanakan tugasnya.

Kepemimpinan kepala sekolah yang baik harus dapat mengupayakan peningkatan kinerja guru melalui program pembinaan kemampuan tenaga kependidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mempunyai kepribadian atau sifat-sifat dan kemampuan serta keterampilan-keterampilan untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan. Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga. Selain dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru juga dipengaruhi oleh iklim sekolah. Iklim sekolah adalah suasana bekerja, belajar, berkomunikasi, dan bergaul dalam organisasi pendidikan (Pidarta, 1988:176).

Dengan terciptanya iklim sekolah yang kondusif, maka guru akan merasa nyaman dalam bekerja dan terpacu untuk bekerja lebih baik. Hal tersebut mencerminkan bahwa suasana sekolah yang kondusif sangat mendukung peningkatan kreativitas dan kinerja guru.

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat benang merah antara kepemimpinan kepala sekolah, kreativitas guru, dan efektivitas kinerja guru di suatu lembaga pendidikan. Selaras dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Persepsi Guru tentang Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kreativitas Kinerja Guru  terhadap Efektivitas Kinerja Mengajar Guru pada  Sekolah  Dasar  di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.”

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif bertujuan menerangkan dan mengungkapkan secara sistematis antara dua variabel atau lebih, sekaligus menguji satu atau beberapa hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk melaksanakan suatu penelitian deskriptif ini dilakukan melalui survei, sehingga prediksi dan keeratan hubungan antara variabel  yang diteliti dapat diukur sekaligus. Sedangkan metode kuantitatif adalah data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.

Kerlinger (Riduan, 2006:49) mengatakan: “Penelitian survey adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar atau kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan hubungan antar variabel sosiologis dan psikologis”. Metode analisis kuantitatif menggunakan analisis regresi dan korelasi yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan antara variabel independen.

Pembahasan Hasil Penelitian

1. Analisis Data Deskriptif

Pertama, diperoleh nilai rata-rata dari keseluruhan item variabel kepemimpinan transformasional () sebesar 3.94, yang termasuk dalam kategori “Baik”. Hal ini berarti bahwa kepemimpinan transformasional pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya berada pada kategori “Baik”.

Kedua, diperoleh nilai rata-rata dari keseluruhan item variabel kreativitas kinerja guru () sebesar 4.48 yang termasuk dalam kategori “Sangat Tinggi”. Hal ini berarti bahwa kreativitas kinerja guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

Ketiga, diperoleh nilai rata-rata dari keseluruhan item variabel efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 3.87, yang termasuk dalam kategori “Tinggi”. Hal ini berarti bahwa efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kabupaten Tasikmalaya “Tinggi”.

2. Pengujian Persyaratan Analisis

Pertama, uji normalitas data menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnof. Data dianalisis dengan bantuan computer program SPSS versi 12 Windows 2000. Dasar pengambilan keputusan berdasarkan probabilitas. Jika probabilitas > 0,05 maka data penelitian berdistribusi normal.

Tabel Hasil Uji Normalitas Data

No. Variabel Sig. Kriteria Keterangan
1 Kepemimpinan transformasional () 0,858 0,858 > 0.05 Normal
2 Kreativiats Kinerja Guru () 0,050 0.050 > 0.05 Normal
3 Efektivitas Kinerja Mengajar Guru (Y) 0,372 0.372 > 0.05 Normal

Kedua, uji linieritas menggunakan anova variabel X dan Y, dengan melihat nilai signifikansi dari deviation of linearity, baik untuk  terhadap Y maupun untuk   terhadap Y. Dengan kesimpulan bahwa jika nilai signifikansi < 0,05 maka hubungannya bersifat linier.

Tabel Hasil Uji Linieritas Data

No. Variabel Sig. Kriteria Keterangan
1 terhadap Y 0, 000 0,000 < 0,05 linier
2 terhadap Y 0,002 0,002 < 0,05 linier

3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi, taraf signifikansi, koefisien determinasi dan analisis regresinya.

Pertama, diduga bahwa semakin baik kepemimpinan transformasional maka semakin tinggi efektivitas kinerja mengajar guru. Sebaliknya, semakin buruk kepemimpinan transformasional maka semakin rendah efektivitas kinerja mengajar guru. Untuk membuktikan dugaan tersebut, maka dilakukan pengujian hipotesis dengan menghitung koefisien korelasi, taraf signifikansi, koefisien determinasi dan analisis regresinya, sebagai berikut:

a.         Diperoleh hasil r = 0,649 dengan tingkat signifikansi  p = 0,000 < α = 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara variabel dengan variabel Y. Jika melihat tolok ukur atau criteria harga koefisien korelasi yang ditetapkan Akdon (2008:188), dimana nilai  sebesar 0,649 terletak pada interval koefisien 0,60 – 0,799 dengan tingkat hubungan “Kuat”.

b.         Diperoleh nilai  sebesar 5,694 sedangkan  pada taraf signifikansi 0,05 dengan dk (51-2) = 49 diperoleh angka sebesar  1,684. Ternyata,  (5,694) >  (1,684). Dengan demikian, terdapat korelasi positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dengan efektivitas kinerja mengajar guru.

c.          Diperoleh hasil nilai R Square sebesar 0,421 atau 42,1%. Hal ini berarti bahwa  kepemimpinan transformasional memberikan pengaruh sebesar 42,1% terhadap efektivitas kinerja mengajar guru.

d.         Diperoleh arah regresi (b) sebesar 0,726 dan konstanta sebesar 36,473. Maka dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut oleh persamaan regresi Ŷ = 36,473 + 0,726 . Hal ini dapat menjelaskan ramalan (forecasting) bahwa peningkatan kepemimpinan transformasional akan diikuti oleh peningkatan efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 0,726 unit pada konstanta 36,473.

e.         Diperoleh nilai  sebesar 35,575 sedangkan   pada tingkat kepercayaan 95% dengan dk (n-2) = 49, diperoleh harga  sebesar 4,03. Setelah diketahui harga  dan , ternyata  (35,575) >   (4,03). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan transformasional terhadap efektivitas kinerja mengajar guru.

Kedua, diduga bahwa makin tinggi kreativitas kinerja guru maka semakin tinggi efektivitas kinerja mengajar guru. Sebaliknya, makin rendah kreativitas kinerja guru maka semakin rendah efektivitas kinerja mengajar guru. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi, taraf signifikansi, koefisien determinasi, dan analisis regresinya.

a.         Diketahui nilai korelasi 0,418 dengan tingkat signifi-kansi 0,002. Hal ini berarti terdapat korelasi yang positif antara variabel  dengan variabel Y. Mengacu kepada kriteria harga koefisien korelasi yang ditetapkan Akdon (2008:188), dimana nilai  sebesar 0,418 terletak pada interval koefisien 0,40 – 0,599 dengan tingkat hubungan “Cukup Kuat”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang cukup kuat antara kreativitas kinerja guru dengan efektivitas kinerja mengajar guru.

b.         Diperoleh nilai   sebesar 3,216 sedangkan   pada tingkat signifikansi 0,05 dengan dk (51-2) = 49 diperoleh angka sebesar 1,671. Ternyata  (3,216)  >   (1,671). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara kreativitas kinerja guru dengan efektivitas kinerja mengajar guru.

c.          Diperoleh nilai sebesar 0,174 atau 17,4%, yang berarti bahwa kreativitas kinerja guru memberikan pengaruh sebesar 17,4% terhadap efektivitas kinerja mengajar guru. Sedangkan sisanya, sebesar 82,6% dipengaruhi oleh faktor lain.

d.         Diperoleh arah regresi (b) sebesar 0,088 dan konstanta (a) sebesar 89,716. Dengan demikian, dapat digambarkan bentuk hubungan antara kedua variabel tersebut dengan persamaan regresi Ŷ = 89,716 + 0,088. Hal ini dapat menjelaskan ramalan (forecasting) yang menyatakan bahwa peningkatan satu unit kreativitas kinerja mengajar guru akan diikuti dengan peningkatan nilai Efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 0,088 unit pada konstanta 89,716.

e.         Diketahui nilai  sebesar 10,346 sedangkan , pada tingkat kepercayaan 95% dengan dk (n-2) = 49, diperoleh harga sebesar 4,03. Dengan demikian, diketahui  > sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru.

Ketiga, diduga bahwa makin baik kepemimpinan transformasional dan makin tinggi kreativitas kinerja guru maka semakin tinggi efektivitas kinerja mengajar guru. Sebaliknya, makin kurang baik kepemimpinan transformasional dan makin rendah kreativitas kinerja guru maka semakin rendah efektivitas kinerja mengajar guru. Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi, taraf signifikansi, koefisien determinasi, dan analisis regresi gandanya, sebagai berikut:

a.         Diketahui nilai korelasi (R) sebesar 0,452 yang berarti bahwa terdapat korelasi ganda yang positif dari variabel  dan  (secara simultan) terhadap variabel Y. Berdasarkan kriteria harga koefisien korelasi yang dikemukakan Akdon (2008:188), ternyata nilai   sebesar 0,452 berada pada interval koefisien 0,40 – 0,599 yang menunjukkan tingkat hubungan  “Cukup Kuat”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi ganda positif yang cukup kuat antara variabel kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru (secara simultan) dengan efektivitas kinerja mengajar guru.

b.         Diketahui harga  sebesar 19,767, sedangkan , pada tingkat kepercayaan 95% dengan dk (n-2) = 49, diperoleh harga sebesar 4,03. Dengan demikian, diketahui bahwa  (12,321) >  (4,03), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi ganda positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru (secara sumultan) dengan efektivitas kinerja mengajar guru.

c.          Diperoleh nilai R Square sebesar 0,452 atau 45,2%. Ini berarti bahwa kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru memberikan pengaruh terhadap efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 45,2%. Sedangkan sisanya sebesar 54,8% dipengaruhi oleh faktor lain.

d.         Diperoleh arah regresi () sebesar 0,641 dan () sebesar 0,040 dengan konstanta (a) sebesar 38,481. Dengan demikian, dapat digambarkan bentuk hubungan antara ketiga variabel tersebut dengan persamaan regresi Ŷ = 38.481 + 0,641  + 0,040 . Hal ini dapat menjelaskan ramalan (forecasting) yang menyatakan bahwa peningkatan satu unit kepemimpinan transformasional dan satu unit kreativitas kinerja guru akan diikuti dengan peningkatan nilai efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 0,384 (0,641 + 0,040) unit pada konstanta 38,481.

Besarnya pengaruh kepemimpinan situasional dan motivasi berprestasi guru secara simultan terhadap  kinerja mengajar guru pada SD Negeri di Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya dapat dilihat pada table berikut:

Data Hasil Pengujian Hipotesis

Pengaruh Antar Variabel Koefisien Korelasi (R) Sig. Nilai F Hasil Pengujian Koefisien Determinasi Variabel Lain (ε)
terhadap Y 0,649 0,000 35,575 Signifikan 42,1% 57,9%
terhadap Y 0,418 0,002 10,346 Signifikan 17,4% 82,6%
terhadap Y 0,672 - 19,767 Signifikan 45,2% 54,8%

Kesimpulan, Implikasi, dan Saran

Kesimpulan

Pertama, kepemimpinan transformasional pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya, yang diukur melalui: (1) Stimulus intelektual, dan (2) Pertimbangan individual, (3) Motivasi Inspirasi, dan (4) Pengaruh ideal, termasuk kategori “Baik”. Hal ini ditunjukkan oleh skor rata-rata  kepemimpinan transformasional yang berada pada kategori “Baik”.

Kedua, kreativitas kinerja guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya, yang diukur melalui: (1) Kemampuan berpikir kreatif (Aptitude), dan (2) Kemampuan berpikir afektif (Non aptitude), termasuk kategori “Sangat Tinggi”. Hal ini ditunjukan oleh skor rata-rata jawaban responden tentang kreativitas kinerja guru yang berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

Ketiga, efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya, yang diukur melalui: (1) Pengelola pembelajaran, dan (2) Pengembangan potensi, termasuk kategori “Tinggi”. Hal ini ditunjukan oleh skor rata-rata jawaban responden tentang efektivitas kinerja mengajar guru yang berada pada kategori “Tinggi”.

Keempat, terdapat pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan transformasional terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya sebesar 42,1%. Ini berarti bahwa tingkat efektivitas kinerja mengajar guru dapat diberikan oleh  kepemimpinan transformasional sebesar 42,1%.

Kelima, terdapat kontribusi yang signifikan dari kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya sebesar 17,4%. Tingkat efektivitas kinerja mengajar guru dapat diberikan oleh kinerja  sebesar 17,4%.

Keenam, terdapat kontribusi yang signifikan dari pengaruh kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 45,2%. Efektivitas kinerja mengajar guru dapat diberikan oleh pengaruh kepemimpinan transformasional (secara simultan) sebesar 45,2%. Sedangkan sisanya sebesar 54,8% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

Implikasi

Hasil penelitian membuktikan bahwa pengaruh kepemimpian transformasional dan kreativitas kinerja guru berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas kinerja mengajar guru. Hal ini berarti bahwa efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya dapat ditingkatkan  melalui pembaikan kepemimpinan transformasional dan peningkatan kreativitas kinerja guru.

Pertama, efektivitas kinerja mengajar guru dipengaruhi oleh beberapa faktor. Efektivitas kinerja mengajar guru akan berhasil jika ditopang oleh kemampuan kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya. Disamping itu, efektivitas kinerja mengajar guru akan berhasil jika didukung oleh kreativitas kinerja guru. Untuk itu, dalam kontek efektivitas kinerja mengajar guru, tingkat dukungan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan pembelajaran di sekolah dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Kedua, kajian kepemimpinan transformasional berorientasi kepada empat dimensi, yaitu: (1) stimulus intelektual, (2) pertimbangan individual, (3) motivasi inspirasi, dan (4) pengaruh ideal. Melalui pendekatan ini, kepala sekolah dalam konteks efektivitas kinerja mengajar guru, memiliki peran penting sehingga dapat mempengaruhi kualitas pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu memperbaiki  kepemimpinannya, sehingga efektivitas kinerja mengajar guru dapat meningkat. Dengan meningkatkannya efektivitas kinerja mengajar guru, diharapkan  mampu meningkatkan kualitas pembelajaran pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

Ketiga, Tingkat efektivitas kinerja mengajar guru dipengaruhi pula oleh faktor kreativitas kinerja guru. Tingkat pengaruh  dapat diukur dari indikator kreativitas, dimana jika kreativitas guru menurun maka dapat menyebabkan menurunnya efektivitas kinerja mengajar guru. Dengan demikian, tingkat pengaruh kreativitas kinerja guru  dapat mempengaruhi efektivitas kinerja mengajar guru.

Rekomendasi

Pertama, dengan pendekatan  kepemimpinan transformasional, kepala sekolah dapat lebih dinamis memimpin sekolah dengan menciptakan hubungan stimulus intelektual dan hubungan emosional antar personal secara simultan sehingga dapat membangkitkan gairah kerja dalam suasana kebersamaan. Dengan demikian, melalui pendekatan  kepemimpinan transformasional, penulis merekomendasikan bahwa kepala sekolah dapat menjadi pendorong (stimulant) untuk mengeksplorasi potensi guru sehinga dapat menemukan cara-cara baru   dalam pengelolaan pembelajaran di sekolah. Disamping itu, kepala sekolah dapat membina hubungan yang dapat mendukung pengikutnya sehingga jalur komunikasi tetap terbuka dan pengikutnya merasa bebas untuk berbagi ide kepada pemimpinnya. Dalam motivasi inspirasi, kepala sekolah diharapkan mampu mengartikulasikan pengalamannya sehingga pengikutnya mampu mencapai tujuan pembelajaran yang dikelolanya.

Kedua, kreativitas kinerja guru dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan pembelajaran di dalam kelas, sehingga mampu menumbuh-kembangkan suatu produk pembelajaran untuk menghailkan out put pembelajaran yang diharapkan. Disamping itu, guru mampu menentukan patokan penilaian dan mengambil keputusan atas gagasan yang dicetuskannya.

Ketiga, tugas guru dikatakan efektif apabila terdapat keampuhan dalam proses belajar mengajar yang dilakukan, sehingga terjadi  keseimbangan yang dinamis antara kualitas dan kuantitas pembelajaran dengan memanfaatkan surnber dana dan daya yang tersedia. Dengan demikian, perlu peningkatan aspek kejelasan tujuan yang hendak dicapai, kejelasan strategi pencapaian tujuan, proses analisa dan perumusan kebijakan yang mantap, perencanaan yang matang, penyusunan program yang tepat, tersedianya sarana dan prasarana kerja, pelaksanaan yang efektif dan efisien, dan sistem pengawasan dan pengendalian yang mendidik. Hal ini akan terkait dengan variabel-variabel lain yang turut mempengaruhi efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

Daftar Rujukan

———–. (1998). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

———–. (2002). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Akdon. (2008). Aplikasi Statistik dan Metode Penelitian untuk Administrasi & Manajemen. Bandung: Dewa Ruchi.

Danim. (2007): Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepalasekolahan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006).  Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Engkoswara. (2001). Paradigma Manajemen Pendidikan. Bandung : Yayasan Amal Keluarga.

Hoy, I. (2004). Transformational Leadership; Characteristics and Criticisme. New Jersey : Prenitce Hall.

Peraturan Pemerintah RI No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta:Depdiknas.

Soekarso. (2010) : Teori Kepemimpinan. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Sururi. (2007). Belajar SPSS for Windows. Bandung: Dewa Ruchi.

Sutisna, Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional. Bandung: Angkasa.

Wibowo. (2009). Manajemen Kinerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

About these ads

Tentang ilmucerdaspendidikan

Saya merupakan seorang anak yang terlahir dari keluarga hebat pada tanggal 10 Juni 1989 di Tasikmalaya. Dan berjuang menjadi seorang pemimpin, pekerja keras, manajer yang sukses demi membahagiakan keluarga dan kerabat dekat khususnya "IBU". Kekurangan saya yaitu suka menunda permasalahan untuk dipecahkan dan terkadang malas.he. Cita-cita saya menjadi mahasiswa berprestasi, mendapatkan beasiswa sampai sarjana, kerja di perusahaan Internasional di bagian pendidikan, melanjutkan S2, menjadi Dosen serta konsultan Pendidikan, lanjut S3 dan Dosen Berprestasi, sehingga Bisa Menjadi Professor dan Direktur Kampus Daerah Tasikmalaya.
Tulisan ini dipublikasikan di Jurnal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s