Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia

Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk menjalankan kehidupan ini di dunia karena dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya manusia tersebut tidak bisa memenuhi secara pribadi atau sendirian saja oleh karena itu memerlukan bantuan dari orang lain. Dan manusia juga dalam menjalankan kehidupannya ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar karena dalam kehidupan manusia tidak bisa berdiri sendiri karena disekitar manusia tersebut pasti ada manusia yang lainnya serta dipengaruhi oleh letak geografis dalam kehidupannya. Contohnya saja manusia akan bertumbuh kembang apabila ada pengaruh dari manusia yang lainnya sehingga perilaku manusia tersebut selayaknya seperti manusia yang normal seperti manusia yang lain, tapi berbeda apabila manusia hidup di lingkungan hewan khususnya di lingkungan kera maka tingkah laku serta sikapnya selayaknya seperti kera.

Seperti halnya manusia yang berada di Asia dan dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya yang ada di Asia maka manusia tersebut akan berperilaku, bersikap serta berpikir selayaknya orang Asia. Manusia yang berada di lingkungan Asia pada umur sekolah seperti di SD, SMP, dan SMA di setiap jenjangnya akan terlihat perbedaan-perbedaan dibarengi oleh pengaruh-pengaruh yang diberikan kepada manusia tersebut. Pada mulanya di umur sekolah khususnya di SD prestasi anak itu baik dan berprestasi karena masih kurangnya pengaruh jelek dan hanya diberikan paham-paham yang baik saja sehingga berpengaruh kepada perilaku, sikap dan cara berpikir anak yang baik pula. Kemudia kepada tahap yang selanjutnya manusia di Asia khususnya di jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP dan SMA sudah mulai banyak menerima paham-paham yang kurang baik dan menyebabkan kepada perilaku, sikap dan pikirannya yang kurang baik pula seperti merokok, nongkrong, sex bebas,dll.

Manusia di Asia juga mempunyai budaya yang cukup kental yaitu budaya kerukunan sehingga manusia di Asia apabila ada suatu perbedaan pendapat dengan pendapat manusia yang lainnya lebih baik diam saja daripada pendapatnya dikemukakan dan membuat suatu pertengkaran sehingga manusia di Asia tidak bisa berkembang secara optimal di banding dengan negara liberalis yang bisa mengemukakan pendapat dengan bebas walaupun pendapatnya itu berseberangan. Oleh karena itu Penulis akan memunculkan dan membahas mengenai Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

1.2Tujuan

Dengan dibuatnya makalah ini Penulis mempunyai tujuan, yaitu:

1.      Mencari tahu faktor-faktor yang membuat Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

2.      Mencari Solusi pemecahan dari Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

1.3Rumusan Masalah

Dengan dibuatnya makalah ini Penulis mempunyai rumusan masalah, yaitu:

1.      Faktor-faktor apa saja yang membuat Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

2.      Solusi apa yang bisa memecahkan permasalahan Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

1.4Manfaat Penulisan

Dengan dibuat makalah ini Penulis berharap mempunyai manfaat, yaitu:

1.      Mengetahui faktor-faktor penyebab dari Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia.

2.      Mengetahui Solusi pemecahan dari permasalahan Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia.

BAB II

KAJIAN TEORI

Manusia di Asia tidak bisa Berpikir

Peradaban modern yang tak terbendung dengan globalisasi sebagai ikon utamanya telah menghadirkan suatu paradigma baru. Pradaban modern tak lain adalah pradaban Barat yang diakui sendiri oleh mereka sebagai pradaban universal dan patut dicontoh oleh selainnya. Dan memang diakui bahwa sampai saat ini Barat unggul dalam segala bidang, mulai dari teknologi, perekonomian, keilmuan dan kesejahteraan rakyat, dibandingkan dengan negara di luarnya, terutama Asia.

Asia tidak saja ketinggalan dalam bidang-bidang itu, melainkan juga hanya menjadi konsumen atas “produk-produk” Barat, seperti kebebasan individu dan demokrasi. Keculi Jepang, China, dan Macan Asia (Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura), pola pikir masyarakat selain negara-negara tersebut masih dinilai stagnan. Fregmentasi histori peradaban yang beberapa abab lalu berjaya di bumi Asia hanya mampu menunjukkan romatisme sejarah.

Maka tak heran bila Kishore Mahbubani mempertanyakan kemampuan berpikir orang Asia dengan “Bisakah Orang Asia Berpikir?”. Pertayaan ini bukanlah melecehkan masyarakat Asia, melainkan sebuah kesadaran yang datang terlambat ketika perkembangan peradaban Asia mulai memasuki ranah yang lebih maju. Diakui atau tidak, menjelang abad 21 perkembangan Asia, khususnya Asia Pasifik, begitu pesat terutama bidang perekonomian.

Menurut Mahbubani, Timur (baca; Asia) dan Barat memiliki ciri khas perpikir. Pola pikir orang Asia besifat ‘holistik’, yakni perhatian yang lebih menekankan pada konteks, toleran pada kontradiksi, dan sedikit bergantung pada logika. Sedangkan orang Barat cendrung berpola pikiran ‘analitis’, menghindari kontradiksi, berfokus pada obyek-obyek yang berbeda dari konteksnya, dan lebih mengedepankan logika (hlm.xxxi). Atau dalam bahasa Dawam Raharjo, dalam pengantarnya, orang Barat lebih rasional, sedangkan orang Asia lebih emosional. Inilah perbedaan mendasar dari tipelogi dua masyarakat, Timur dan Barat.

Sejarah mencatat bahwa beberapa pradaban seribu tahun yang lalu begitu sukses dan tumbuh subur di bumi Asia. Saat itu, orang China, Arab dan India memimpi perkebangan paradaban. Dan diantaranya pula terjadi pertukaran kebudayaan yang saling mendukung kemajuan dari masing-masing. Sedangkan Eropa masih dalam masa “kegelapan” yang dimulai ketika runtuhnya Kekaisaran Romawi. Namun, apa yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan, ketiga peradaban besar Asia itu runtuh dan terpuruk dalam keterpencilan sejarah.

Sebaliknya, bangsa Eropa-lah yang maju ke depan, muncul sebagai peradaban pertama yang mendominasi dunia. Keajaiban seakan menyeruak dalam pikiran orang Eropa. Perubahan terjadi diseluruh sektor kehidupan. Perubahan yang diikuti kemajuan dan peningkatan peradaban, dari renaisan hingga pencerahan, dari revolusi saintifik hingga revolusi industri, yang akhirnya menjadikan dunia diluanya sebagai negeri koloninya. Yang paling menyakitkan pada Asia bukanlah kolonisasi fisik, tetap kolonisasi mental yang menyebabkan orang Asia menyakini superior Barat. Bila berkaca pada sejarah diatas, maka, menurut Mahbubani, jawaban dari pertayaan yang dijadikan judul bukunya adalah “tidak bisa”, orang Asia tidak bisa berpikir. Alasannya, bagaimana mungkin peradaban Asia yang begitu maju luluh lantak. Namun ia juga memberikan alasan untuk jawaban “bisa” dari pertayaannya.

Prestasi ekonomi masyarakata Asia Timur adalah salah satunya. Kedua, adanya perubahan penting yang tengah terjadi dalam pikiran-pikiran orang Asia. Mereka tak lagi percaya jika satu-satunya cara berkembang adalah dengan jalan menjiplak atau membebek. Sekarang mereka yakin bisa membuat solusinya sendiri. Peruabahan pikiran orang Asia terjadi pelan-pelan. Memang mereka tidak sempurna, tapi jelas-jelas tampak superior. Hal ini disebabkan oleh adanya kesadaran bahwa, seperti masyarakat Barat, mereka memiliki filsafat, budaya, dan sosial yang kaya yang bisa dijadikan sandaran dan digunakan untuk mengembangkan masyarakat modern dan berkembang. Ini sebagai alasan ketiga.

Namun, tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat Asia jauh lebih kompleks sebelum bisa meraih tingkat prestasi yang komprehenif. Misalnya Tantangan serius dalam bidang sosial dan keamanan, yang sampai saat ini masih sering terjadi perang sipil dan pemberontakan dalam negeri, masih memperlihatkan wajah kesuramannya. Hal ini, menurut Mahbubani memungkinkan untuk menjawab mungkin dari pertayaannya. Selain itu, yang “mungkin” adalah pemeliharaan kekuatan tradisi nilai-nilai Asia, seperti kasih sayang pada keluarga sebagai institusi, rasa hormat pada kepentingan sosial, sifat berhemat, konservatisme dalam adat istiadat sosial, dan rasa hormat pada pemimpin, menumbuhkan mind Asia yang khas.
Jika tolok ukurnya adalah pradaban Barat yang bisa diserap untuk seluruh segemen kehidupan di Asia, maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana orang Asia menyerap apa yang dimilikinya seperti ia menyerap apa yang telah diprakarsai oleh Barat. Akan tetapi yang sangat memungkin atas pilihan jawaban “mungkin” adalah optimisme orang Asia, sama halnya ketika bangsa Eropa memiliki optimisme saat memasuki renaisan. Dan kepercayaan akan perubahan ini harus dipupuk sedemikian agar tetap bersemi dan membuahkan keberhasilan.

Dalam bahasa Mahbubani, perubahan itu hanyalah masalah waktu (ketika, bukan jika), peradaban Asia mencapai perkembangan yang sama dengan peradaban Barat (hlm.xli). Artinya keniscayaan peruabahan Asia bukan ide utopis, melainkan suatu kenyataan riil. Hegemoni dan dominasi Barat atas Timur akan runtuh secara bertahap.

Bila dikaitkan dalam konteks Indonesia, pertanyaan seperti yang dilontarkan Mahbubani ini tentunya akn memberikan dampak positif untuk perkembangan Indonesia di masa depan. Sebab, munculnya pertayaan seperti tanyakan Mahbubani dari judul buku ini, tak lain hanyalah upaya merangsang masyarakat Asia untuk memulai perubahan yang sebenarnya mampu mereka lakukan. Karena merupakan kesalahan besar ketika manusia Asia hanya bisa menjiplak ‘produk’ Barat tanpa bisa mengembangkannya menjadi sebuah kritik akan stnagnasi yang telah mengkronis.

BAB III

PEMBAHASAN

Sesuai dengan rumusan masalah no 1 yaitu Faktor-faktor apa saja yang membuat Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

Faktor-faktor yang membuat Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia yaitu:

1. Faktor paham yang dianut oleh negara Indonesia

2. Faktor Lingkungan

3. Faktor Deterministik

1. Faktor paham yang dianut oleh negara Indonesia

Pola pikir orang Asia besifat ‘holistik’, yakni perhatian yang lebih menekankan pada konteks, toleran pada kontradiksi, dan sedikit bergantung pada logika. Sedangkan orang Barat cenderung berpola pikiran ‘analitis’, menghindari kontradiksi, berfokus pada obyek-obyek yang berbeda dari konteksnya, dan lebih mengedepankan logika.

Apabila kita bandingkan dengan negara Amerika sebagai negara yang sudah maju yaitu menganut paham liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas.

Pandangan-pandangan liberalisme dengan paham agama seringkali berbenturan karena liberalisme menghendaki penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. meski dalam prakteknya berbeda-beda di setiap negara, tetapi secara umum liberalisme menganggap agama adalah pengekangan terhadap potensi akal manusia.

Sedangkan di Indonesia mempunyai Paham demokrasi dan mayoritas Agama islam dalam menjalankan kehidupannya serta mempunyai budaya gotong royong dan kerukunan. Walaupun mempunyai paham demokrasi dan kerukunan akan tetapi demokrasi di negara Indonesia belum semuanya bisa dijalankan secara penuh, ada beberapa hal yang masih ada hambatan-hambatan yang dirasakan pengekangan eksploitasi potensi seseorang dalam membuat sebuah karya. Contohnya saja hasil karya mantan presiden kita B.J Habibie yang telah membuat sebuah teori baru yang mengenai pesawat terbang bagian sayapnya. Ketika sedang mengenyam pendidikannya di sebuah universitas di Indonesia maka pihak dosen yang mengajarinya itu menganggap sok membuat teori baru yang kurang relevan dengan kinerja pesawat pada saat itu dan tanggapan dari pemerintah Indonesia juga dalam pengakuan hasil karyanya kurang ada perhatian sehingga B.J Habibie pindah ke negara Jerman untuk mengimplementasi teori yang sudah dibuatnya dan negara Jerman ternyata dalam bentuk apresiasinya lebih tinggi sehingga B.J Habibie tinggal disana. Dan sampai sekarang apabila ada pesawat baru yang menggunakan teori hasil ciptaan B.J Habibie tanpa adanya ACC dari beliau maka tidak bisa terbang melaksanakan kegiatannya dan mendapatkan Dana dari perusahaan yang menciptakan pesawat tersebut.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan di suatu negara atau disetiap wilayah akan berbeda-beda sesuai dengan letak geografis wilayah tersebut. Untuk lebih jelasnya kita bandingkan wilayah negara Indonesia dengan negara Jepang.

Jepang adalah negara kepulauan  yang panjang dan sempit membentang dari utara ke selatan dan terdiri dari gunung-gunung yang tinggi, hal ini menyebabkan iklim di bagian utara dan selatan jauh berbeda. demikian pula iklim di derah laut Jepang dan daerah Pantai Pasifik memiliki iklim yang berbeda pula.

Pada musim panas bertiup angin dari Samudra Pasifik, sedangkan pada musim dingin bertiup angin dari Laut Jepang (dari daratan Asia), sehingga pada musim panas di daerah pantai Samudra Pasifik banyak turun hujan, sedangkan di daerah pantai Laut Jepang banyak turun hujan pada saat musim dingin tiba. Cuaca di daerah Pantai Samudra Pasifik pada musim dingin akan cerah walaupun udara sangat dingin. Sebaliknya cuaca di daerah pantai Lautan Jepang akan gelap dan suhu udara sangat dingin disertai turunnya hujan.

Suhu musim dingin di Hokkaido rata-rata di bawah nol derajat celcius, sedangkan di Kyushu rata-rata nol derajat celcius. Hal ini menyebabkan salju turun di Hokkaido dari awal musim dingin sampai akhir musim dingin yang mengakibatkan salju menjadi sangat tebal sehingga bunga sakura baru bisa berkembang pada awal bulan Mei.  Sedangkan di Kyushu salju tidak turun setiap hari (terkadang) sehingga bunga sakura bisa mulai berkembang kurang lebih pada bulan Maret.

Udara di Tokyo pada musim panas sangat panas, tetapi pada musim semi dan musim gugur cuaca cerah dan udaranya sejuk.

Jepang memiliki 4 macam musim yg di sebut shiki yaitu Haru atau musim panas  (maret, april, mei), Natsu atau musim semi (juni, juli, agustus), Aki atau musim gugur (september, oktober, november), dan Fuyu atau musim dingin (desember, januari, februari).

Di Hokkaido fuyu (musim dingin) sangat dingin, tetapi Haru (musim panas) tidak begitu panas. Di Kyushu bagian selatan dan Okinawa walaupun fuyu tidak begitu dingin dan Tsuyu (musim hujan) kemungkinan di bulan Juni. Pada musim hujan biasanya orang-orang jepang mulai menanam padi yang dituai pada akhir musim gugur. Setelah musim hujan berakhir tibalah musim panas (natsu) yang sangat panas.

Musim semi, bunga mulai berkembang, udara hangat, dan cuaca cerah, dan tibalah musim panas yang sangat panas, musim gugur daun-daun mulai berguguran udara sejuk dan cuaca menjadi agak mendung, tibalah musim dingin, daun-daun mulai menghijau, salju turun apabila suhu udara di bawah nol derajat celcius.

Daerah yang terbanyak turun salju di Jepang yaitu Niigata (daerah dekat pantai Laut Jepang). Di daerah ini setiap tahun sejak bulan November hingga bulan Aprilsalju turun terus menerus hingga mencapai ketebalan 3 – 4 meter.

Sedangkan di negara Indonesia sendiri beriklim serta musim yaitu  laut tropis karena letaknya didaerah tropis dan diapit oleh dua samudera yaitu samudera pasifik dan samudera hindia. Indonesia mempunyai dua musim yaitu musim hujan (Oktober-April), dan musim kemarau (Mei-September). Namun karena wilayahnya yang luas, keadaan geografisnya yang berbeda-beda serta daerahnya yang dibelah oleh garis khatulistiwa maka sering terjadi perbedaan-perbedaan atau penyimpangan musim.

Suhu dan kelembapan udara di negara Indonesia berkisar antara 20 derajat Celcius sampai dengan 30 derajat Celcius. Semakin tinggi tempat maka semakin rendah pula suhunya. Misalnya, diberbagai dataran tinggi atau wilayahnya di kelilingi oleh pegunungan, suhu pada malam hari pada musim kemarau terkadang suhunya rendah. Secara umum dapat digambarkan bahwa pada daerah yang berada sampai 700 meter keatas permukaan laut merupakan daerah panas dengan suhu 22 derajat celcius keatas. Daerah dengan ketinggian antara 700-1500 meter merupakan daerah sedang dan suhunya berkisar 15 derajat celcius sampai 22 derajat celcius. Daerah dengan ketinggian antara 1500-2500 meter merupakan daerah sejuk dengan suhu antara 11 derajat celcius sampai 15 derajat celcius dan daerah dengan ketinggian antara 2500-4000 meter yaitu daerah dingin dengan suhu 11 derajat celcius kebawah.

Dari perbedaan iklim serta musim maka perbeda pula dalam aktivitas kesehariannya yang berdampak kepada perilaku, sikap serta cara berpikir. Maka orang-orang banyak mengatakan kalau orang jepang itu gila kerja bukan kerja gila. Oleh sebab itu apabila jam kerja maka di jepang tempat makan itu tutup dan buka ketika jam istirahat kerja karena pada saat itu orang-orang akan pada makan dan jarang orang yang ramai dijalan dan nongkrong ketika jam kerja. Di Jepang, mereka yang pulang lebih dulu selalu diberi berbagai tanggapan negatif. Bangsa Jepang terkenal sebagai bangsa yang kuat bekerja. Bagi mereka kerja merupakan segala-galanya. Dalam keluarga Jepang, apabila lelaki bekerja keras menjadi kebanggaan istri dan seluruh keluarganya. Bekerja sampai malam sudah menjadi kebiasaan mereka. Sebaliknya, akan menjadi masalah yang luar biasa bila seseorang pulang lebih awal ke rumah. Karena mereka akan mendapat tanggapan negatif seperti dipecat, sakit atau malas bekerja. Sikap orang Jepang terhadap kerja berhubungan erat dengan semangat samurai yang diwarisi turun temurun. Melalui sistem ini, para pekerja di Jepang ditanamkan rasa taat kepada pemimpin atau kepada perusahaan tempat mereka bekerja.Mereka tidak akan mengutuk atau menggerutu bila dibebani banyak pekerjaan dan waktu kerja yang lama. Justru mereka mengangapnya sebagai sebuah tanggung jawab yang perlu dilaksanakan sebaik mungkin, meskipun harus mengorbankan waktu istirahat atau kumpul bersama keluarganya.

Orang Jepang suka bekerja, mereka malah merasa tidak enak bila menganggur dan tidak ada yang dikerjakannya.Perasaan ini sering kali dialami oleh mereka yang sedang sakit atau lanjut usia. Bagi golongan ini, mereka mencari kegiatan lain untuk mengisi waktu luang. Sikap dan komitmen orang Jepang pada pekerjaan sangatlah tinggi. Saat bekerja, mereka memberi seluruh perhatian pada pekerjaannya. Bekerja dengan sungguh-sungguh dan melakukan pekerjaan dengan sempurna. Bangsa Jepang memiliki sikap positif pada pekerjaannya. Mereka memiliki disiplin tinggu saat bekerja. Orang Jepang tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya pada saat sedang bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu saat bekerja. Tidak heran jika hasil kerja mereka melebihi bangsa-bangsa lain.Produktivitasnya tinggu dan gaji mereka dibayar berdasarkan “hasil kerja” mereka, bukan berdasarkan “jabatan”. Bangsa Jepang selalu dianggap “gila kerja” tapi tidak berarti mereka “kerja gila” atau “gila-gilaan saat bekerja” Sehingga mereka banyak menghabiskan sebagian waktunya di tempat mereka bekerja. Karena mereka lebih suka berada di tempat kerja daripada duduk bersantai ria di rumah. Dengan demikian waktu orang Jepang dengan  keluarganya sangatlah terbatas. Namun bagi mereka yang sudah berumah tangga, situasi ini tidaklah menimbulkan banyak masalah. Istri mereka sudah terbiasa dan dapat menerima situasi itu. Oleh karenanya, jarang sekali terjadi perceraian yang disebabkan oleh kegilaan suami dalam bekerja. Istri-istri orang Jepang merasa “bangga apabila suami mereka gila kerja dan bekerja keras, karena itu menjadi pertanda status sosial yang tinggi.”

Itulah keunikan dan kelebihan bangsa Jepang yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya. Mereka dipandang tinggi dan disanjung karena kerajinannya. Mereka yang kuat bekerja saja yang bisa meneruskan kesinambungan hidupnya, sedangkan yang malas bekerja akan ketinggalan dan terpinggirkan. Ini karena setiap pekerja di Jepang menghadapi persaingan ketat saat mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan kedudukannya dalam suatu organisasi. Iklim kerja inilah yang mendorong mereka untuk bekerja keras dan juga biaya hidup yang tinggi menjadi salah satu faktor mereka untuk bekerja sepenuh hati. Namun persaingan kerja mereka dilakukan secara sehat dan tidak menjatuhkan lawan, karakter seperti ini telah dipelihara sejak kecil, bukan karena bakat, bukan pula karena genetik. kerajinan bekerja ini merupakan  hasil dari latihan demi latihan dan pemupukan sifat positif dalam memandang pekerjaan.

Sikap seperti ini dapat dipelajari dan diimplementasikan dalam masyarakat Indonesia. Yang harus dilakukan adalah setiap pekerja harus memiliki kemauan untuk mengubah sikap dan orientasi kerjanya. Dibandingkan Jepang, Indonesia masih jauh tertinggal, terutama dalam segi “waktu bekerja”.Tetapi tidak berarti bangsa Indonesia tidak dapat menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi seandainya waktu bekerja itu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Untuk sebuah masyarakat yang maju seperti Jepang, kita tidak harus menjadi orang yang “gila pada pekerjaan”. Yang harus dilakukan adalah “sikap benar pada pekerjaan”. Pekerja yang bersikap benar dan positif akan berusaha mengurangi pemborosan waktu. Banyak waktu bekerja yang digunakan oleh pekerja Indonesia untuk urusan lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

Resminya, lama waktu bekerja di Indonesia adalah 9 jam. Dari jumlah tersebut hanya 3 jam yang maksimal digunakan untuk melakukan pekerjaannya. Selebihnya digunakan untuk mengobrol hal-hal yang tidak berguna, makan siang, minum sore, makan cemilan, berbelanja, membaca majalah  atau surat kabar, mengantar dan menjemput anak sekolah atau yang sakit, istirahat, ke toilet, tidur, merokok, berdandan, bisnis sambilan, dan sebagainya. Ada juga yang berhenti setengah jam lebih awal sebelum masa bekerja selesai agar bisa siap-siap pulang ke rumah untuk menghindari macet atau hal lainnya. Tabiat kerja yang buruk seperti ini yang perlu diubah. Jika tidak, maka usaha mencontoh budaya Jepang yang maju dan berhasil itu akan sia-saia dan tidak mendatangkan hasil bagi orang Indonesia. Hal seperti ini yang terjadi di dunia kerja Indonesia bukan “gila kerja” tetapi berbuat “gila saat bekerja” bisa anda liat dari “fakta menarik” tabiat buruk orang Indonesia saat bekerja.

3. Faktor Deterministik

Sistem deterministik (deterministic system) adalah suatu sistem yang operasinya dapat diprediksi secara tepat, misalnya sistem komputer. Sedangkan sistem probabilistik (probabilistic system) adalah sistem yang tak dapat diramal dengan pasti karena mengandung unsur probabilitas, misalnya sistem arisan dan sistem sediaan, kebutuhan rata-rata dan waktu untuk memulihkan jumlah sediaan dapat ditentukan tetapi nilai yang tepat sesaat tidak dapat ditentukan dengan pasti.

Sementara kebanyakan hewan tidak memiliki kehendak bebas ketika mereka selalu menanggapi rangsangan lingkungan, manusia di sisi lain memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka dan karenanya, memiliki fleksibilitas perilaku yang lebih besar.

Hanya karena seseorang memiliki gen tertentu tidak berarti bahwa ia akan menampilkan sifat untuk itu gen. Sebaliknya gen hanya akan dominan jika ada kombinasi yang tepat dan lingkungan yang tepat untuk memicu itu. Dan kita berbicara tentang lingkungan, bukan hanya lingkungan alam tetapi juga mengacu pada seseorang masyarakat dan budaya.

Behaviorisme percaya bahwa semua perilaku yang diperoleh melalui pengkondisian dan ini terjadi ketika individu berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, behaviorisme tidak memperhitungkan keadaan mental internal orang. Kehendak bebas, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah kemampuan untuk memilih dan memilih dan ini berarti bahwa orang tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain unsur deterministik seperti lingkungan dan keturunan.

Seseorang dapat memilih untuk berperilaku tertentu meskipun dia gen dan faktor lingkungan. Namun, ada satu aliran pemikiran yang berbicara tentang behaviorisme sebagai faktor deterministik. Berikut ia percaya bahwa kehendak bebas terdiri dari perilaku yang bergantung pada gen serta pengalaman lingkungan masa lalu. Seseorang yang tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh genetika dan pengalaman lingkungan akhirnya benar-benar dapat dikendalikan lebih oleh elemen-elemen ini.

Dan karena itu, jika Manusia melihat pada behaviorisme sebagai perspektif deterministik, tampak bahwa semua pengaruh masa lalu, susunan biologis seseorang, dampak budaya dan kesadaran masyarakat dan elemen-elemen ini adalah apa yang mempengaruhi seseorang untuk membuat pilihan.

Manusia di Indonesia sekarang kecenderungan lebih suka berhura-hura tanpa adanya pemikiran untuk berorganisasi untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki untuk keberlangsungan hidupnya di masa yang akan datang. Contohnya saja secara generalisasi mahasiswa adpend2008 yang mengikuti keorganisasian baik di lingkungan jurusan maupun di luar jurusan administrasi pendidikan itu bisa dibilang kurang memuaskan. Padahal keilmuan jurusan administrasi pendidikan berprioritas pada implementasi di organisasi bagaimna kita mengelola sebuah organisasi itu dalam sumber daya yang sedikit maupun yang melimpah bisa dikelola secara efektif dan efisien bahkan bagaimana kita bisa membuat sebuah organisasi baru khususnya membangun sekolah yang baik yang dapat menampung kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Rumusan masalah yang no.2 yaitu Solusi apa yang bisa memecahkan permasalahan Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia?

1. Faktor Paham yang dianut oleh Negara Indonesia

Paham yang dianut di negara Indonesia adalah Demokrasi yang dibarengi dengan adanya budaya Kerukuna. Apabila ada seseorang yang berpendapat yang berbeda dengan orang lain maupun yang bersikap yang berbeda dengan kita seharusnya kita harus saling bertoleransi satu sama lainnya, karena pendapat serta sikap kita belum tentu lebih baik daripada sikap yang ditunjukan oleh orang lain.  Oleh karena itu apabila ada pendapat dan sikap yang berbeda dengan kita harus di sikapi dengan kritis apabila pendapat serta sikapnya bisa mempengaruhi kearah yang lebih baik serta progresif kenapa tidak kita terima dan coba diimplementasikan untuk kepentingan khalayak banyak untuk lebih baik kedepannya.

2. Faktor Lingkungan

Yang harus dilakukan adalah setiap pekerja harus memiliki kemauan untuk mengubah sikap dan orientasi kerjanya. Dibandingkan Jepang, Indonesia masih jauh tertinggal, terutama dalam segi “waktu bekerja”.Tetapi tidak berarti bangsa Indonesia tidak dapat menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi seandainya waktu bekerja itu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Untuk sebuah masyarakat yang maju seperti Jepang, kita tidak harus menjadi orang yang “gila pada pekerjaan”. Yang harus dilakukan adalah “sikap benar pada pekerjaan”. Pekerja yang bersikap benar dan positif akan berusaha mengurangi pemborosan waktu.

3. Faktor Deterministik

Seharusnya Pemerintah harus bisa mensejahterakan masyarakat Indonesia agar kebutuhan-kebutuhannya tercukupi apalagi untuk makananya yang 4 sehat 5 sempurnya agar kondisi anak gizinya cukup dan ketika belajar akan berkonsentrasi penuh untuk menangkap pelajaran yang sedang diberikan. Serta sekolah-sekolah harus bisa mengajak para peserta didik untuk memperbanyak pelajaran-pelajaran dari pengalamannya contohnya peserta didik mengikuti organisasi yang bisa menumbuh kembangkan potensi yang dimilikinya sehingga akan menunjang juga kepada cara berpikir dan bersikap demi kebaikannya dimasa yang akan datang.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Manusia dalam menjalankan kehidupanya tidak bisa berdiri sendiri karena manusia bisa tumbuh berkembang apabila hidup di tengah manusia sehingga mendapatkan pengaruh-pengaruh yang dirasakan oleh manusia tersebut untuk tetap survive.

Manusia di Asia tidak Bisa Berpikir khususnya di negara Indonesia disebabkan oleh 3 faktor, yaitu:

1. Faktor Paham yang dianut oleh negara Indonesia

2. Faktor Lingkungan

3. Faktor Deterministik

4.2 Saran

Dengan mengetahui permasalahan kenapa Manusia di Asia tidak bisa berpikir jangan dianggap sebagai hambatan tetapi jadikanlah sebagai batu loncatan karena kita sekarang sudah tahu faktor-faktor penyebab kenapa Manusia di Asia tidak bisa berpikir khususnya di negara Indonesia ini. Dan itu akan berarti apabila kita sebagai calon pendidik bisa merespon dan mempelajarinya dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Thompson Roger. 2007. Liberalisme. http: //id . wikipedia . org / wiki / Liberalisme

Ardi Hartono. 2008. Iklim dan Musim di Jepang. http://freeandzz.wordpress.com/2009/10/18/iklim-dan-musim-di-jepang/

Kintoko retno. 2008. Gila kerja vs Kerja Gila. http://www.mail-archive.com/cikeas@yahoogroups.com/msg08467.html

Faustina angelica . 2006 . Deterministik. http: //www . angelicafaustina . com / search / deterministik

Tentang ilmucerdaspendidikan

Saya merupakan seorang anak yang terlahir dari keluarga hebat pada tanggal 10 Juni 1989 di Tasikmalaya. Dan berjuang menjadi seorang pemimpin, pekerja keras, manajer yang sukses demi membahagiakan keluarga dan kerabat dekat khususnya "IBU". Kekurangan saya yaitu suka menunda permasalahan untuk dipecahkan dan terkadang malas.he. Cita-cita saya menjadi mahasiswa berprestasi, mendapatkan beasiswa sampai sarjana, kerja di perusahaan Internasional di bagian pendidikan, melanjutkan S2, menjadi Dosen serta konsultan Pendidikan, lanjut S3 dan Dosen Berprestasi, sehingga Bisa Menjadi Professor dan Direktur Kampus Daerah Tasikmalaya.
Tulisan ini dipublikasikan di Makalah. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s