PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK)

Abstrak

Siswa dapat meningkatkan kemampuan berfikir melalui implementasi strategi, metode, dan model pembelajaran yang terintegrasi secara sistematis dan komprehensif. Strategi, pendekatan, dan model pembelajaran adalah berbeda dalam berbagai dimensi, dimana strategi pembelajaran merupakan sebuah prosedur pembelajaran yang dijalankan oleh guru secara bersama-sama dengan siswa, sedangkan model pembelajaran lebih menitikberatkan pada pola yang digunakan untuk membentuk, merancang dan membimbing pembelajaran di dalam kelas. Dengan penerapan strategi pembelajaran yang benar diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi kemampuan dan prestasi siswa khususnya bagi siswa yang belajar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah dasar dan menengah.

Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Kemampuan Berfikir, Teknologi Informasi.

A. Latar Belakang

Landasan Filosofis Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB) adalah kontruktivisme. Menurut kontruktivisme pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari obyek saja,  tetapi bagaimana kemampuan individu sebagai obyek menangkap setiap obyek yang diamati, menurut kontrukivisme, pengetahuan  memang berasal dari luar, tetapi dibangun lagi oleh dan dari dalam diri individu.

Hakikat pengetahuan menurut filsafat kontruktivisme yang dikemukakan Sanjaya (2009: 227) adalah sebagai: (1) Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan kontruksi kenaytaan melalui subyek; (2) Subyek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan; (3) Pengetahuan dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dalam proses  pembelajaran tidak hanya sekedar memindahkan pengetahuan dari  guru kepada siswa, tetapi pengetahuan diperoleh melalui interaksi mereka dengan obyek, pengalaman dan lingkungan yang ada disekitar mereka. Menurut aliran kontruktivisme pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja  kepada orang lain, tetapi harus diartikan sendiri oleh setiap individu. Oleh sebab itu, pembelajaran berpikir menekankan kepada aktivitas siswa untuk  mencari pemahaman akan obyek, menganalisis, dan mengkontruksinya sehingga terbentuk penegtahauan baru dalam diri individu.

Landasan Psikologis Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah aliran psikologi kognitif. Menurut aliran  kognitif, belajar pada hakikatnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (Sanjaya, 2009: 227). Sebagai peristiwa mental perilaku manusia bukan hanya gerakan fisik saja, tetapi yang terpenting adalah adanya faktor pendorong  yang  menggerakan fisik tersebut.hal ini disebabkan karena manusia memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya, kemampuan itulah yang membuat manusia untuk berperilaku.Piaget dalam Sanjaya (2009:227) menyatakan :”…children have a built-in desire to learn”. hal inilah yang  melatar belakangi Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir.

B. Landasan Teori

Istilah strategi pertama kali digunakan dalam dunai militer yang berarti cara bagaimana menggunakan kekuatan untuk menengakan perang. Sekarang ini dalam pembelajaran  istilah strategi pun  digunakan Kemp dalam Sanjaya (2009  :124) menjelaskan bahwa “Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan  guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien”. Sejalan dengan pandangan tersebut, Dick dan Carey dalam Sanjaya (2009 : 124) juga menyebutkan bahwa “strategi  pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersam-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa”. Berdasarkan kedua pendapat tersebut, bisa disimpulkan bahwa strategi pembelajaran digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pada Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB).

Sanjaya (2009 :224) mengungkapkan:

Strategi  pembelajaran  peningkatan kemampuan berpikir  (SPPKB) adalah  model pembelajaran yang bertumpu kepada  pengembangan kemampuan  berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memcahkan masalah yang diajukan.

Berdasarkan pengertian di atas bisa ditangkap bahwa Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir merupakan suatu model pembelajaran yang menitikberatkan kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa berdasarkan pengalaman kehidupannya sehari-hari, sehingga pengalamannya itu dapat dijadikan sumber untuk memcahkan maalah yang diberikan oleh guru.

Menurut Reason dalam Sanjaya (2009:228) bahwa: “berpikir (thingking) dalam proses mental yang lebih dari sekedar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending)”. Berpikir menyebabkan seseorang mencari  informasi diluar yang didengarnya, misalnya kemampuan berpikir seseorang dalam menemukakan jalan keluar  terhadap masalah yang dihadapinya.

C. Karakteristik Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir

Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir merupakan strategi pembelajaran  yang diarahkan untuk  mengembangkan kemampuan berpikir siswa  yang memiliki beberapa karakteristik.Ada tiga karakteristik utama  yang dimilki oleh Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2009 :229) berikut ini :

  1. Proses pembelajaran  melalui Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir  menekankan kepada proses mental siswa secara maksimal. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir  bukan model pembelajaran yang  hanya menuntut siswa sekedar mendengar dan mencacat, tetapi menghendaki aktivitas  siswa dalam proses  berpikir.
  2. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir  dibangun dalam nuansa dialogis  dan proses  tanya jawab secara terus menerus .proses  pembelajaran melalui dialogis  dan tanya jawab itu diarahkan  untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa,  yang pada gilirannya  kemampuan berpikir itu dapat membantu  siswa memperoleh pengetahuan yang mereka kontruksi sendiri.
  3. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah model pembelajaran yang menyandangkan kepada kedua sisi yang sam pentingnya, yaitu sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan  berpikir, proses sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkontruksi  penegtahuan atau penugasan pembelajaran  baru.

Berdasarkan karakteristik yang dikemukakan diatas, maka Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir menghendaki siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, tidak hanya sekedar mendengar dan mencatat apa  yang diberikan oleh guru, selain itu siswa juga harus mampu dalam mengkontruksi dan membangun pengetahuan baru.

Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir menekankan  kepada keterlibatan  dan kearifan siswa secara penuh  dalm pembelajaran, Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir  memiliki enam tahap. Sanjaya (2009 : 232) menjelaskan setiap tahapannya sebagai berikut :

1. Tahapan Orientasi

Pada tahap ini  guru mengkondisikan siswa pada posisi siap untuk melakukan  pembelajarannya. Tahap  orentasi  dilakukan dengann, pertama, penjelasan tujuan yang harus dicapai baik tujuan yang berhubungan dengan penguasaan materi  pelajaran yang  harus dicapai, maupun  tujuan  yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau kemampuan berpikir yang harus dimiliki siswa. Kedua , penjelasan proses pembelajaran yang  harus dicapai siswa dalam setiap  tahapan  proses pembelajaran.

2. Tahapan Pelacakan

Tahap pelacakan  adalah tahapan penjajakan untuk memahami  pengalaman dan  kemampuan dasar ssiwa  sesuai dengan tema  atau pokok  persoalan yang akan dibicarakan.melalui tahapan inilah guru  mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkapkan pengalamna apa saja  yang telah dimiliki siswa yang dianggap relevan dengan tema  yang bakan dikaji.dengan berbekal pemahaman itulah selanjutnya guru  menentukan  bagaimana ia harus  mengembangkan dialog dan tanya jawab pada tahapan-tahapan selanjutnya.

3. Tahapan Konfrontasi

Tapa konfrontasi adalah tahapan  penyajian persoalan yang harus  dipecahkan sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman siswa. Untuk merangsang peningkatan kemampuan siswa pada  tahap ini guru  dapat memberikan persoalan-persoalan yang dilematis yang memerlukan jawaban atau jalan keluar.persoalan yang sesuai dengan kemampuan dasar atau pengalaman siswa seperti yang diperoleh pada tahap kedua.

4. Tahap inkuiri

Tahap inkuiri  adalah tahapan  terpenting dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir. Pada tahap inilah  siswa belajar yang sesungguhnya .melalui tahapan  inkuiri, siswa diajak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh sebab itu, pada tahapan ini guru harus  memberikan ruang dan kesempatan kepada siswa  untuk mengembangkan gagasan dalam upaya pemecahan persoalan.

5. Tahap Akomodasi

Tahap akomodasi adalah tahapan pembentukan pengetahuan baru melalui proses  penyimpangan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk dapat  menemukan kata-kata kunci sesuai dengan  topik atau tema pembelajaran pada tahap ini melalui dialog guru membingbing agar siswa dapat menyimpulkan apa yang mereka temukakan dan mereka pahami sekitar topik yang dipersalahkan.

6. Tahap Transfer

Tahap transfer adalah  tahapan penyajian masalah baru  yang sepadan dengan masalah yang disajikan .tahap trasfer dimaksudkan  sebagai tahapan agar siswa mampu mentransfer kemampuan berpikir setiap siswa untuk memecahkan masalah-masalah baru. Pada tahap ini guru dapat memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan topik pembahasan.

Berdasarkan tahapan-tahapan yang telah dijelaskan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir dapat berhasil dengan sempurna  khususnya bagi guru. Hal tersebut dikemukan Sanjaya (2009:234) sebagai berikut:

1)     Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah model pembelajaran yang bersifat demokrasi, oleh sebab itu guru  harus mampu menciftakan suasana yang terbuka dan saling  menghargai, sehingga setiap siswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyampaikan pengalaman dan gagasan. dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir guru harus  menempatkan siswa sebagai subyek belajar bukan  sebagai obyek .oleh sebab itu . inisiatif pembelajaran harus muncul dari siswa sebagai subyek belajar.

2)     Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir dibangun dalam suasan tanya jawab, oleh sebab itu guru dituntut untuk dapat  mengembangkan kemampuan bertanya,  misalnya kemampuan bertanya untuk melacak, kemampuan bertanya untuk memancing, bertanya induktif-deduktif, dan mengembangkan pertanyaan terbuka dan tertutup.hindari peran guru sebagai sumber  belajar yang memberikan informasi tentang materi pelajaran.

3)     Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir juga merupakan model pembelajaran yang dikemukan dalam suasana dialogis, karena itu guru harus mampu merangsang dan membangkitkan keberanian siswa untuk menjawan pertanyaan, menjelaskan, membuktikan dengan memberikan data dan fakta serta keberanian untuk mengeluarkan ide dan gagasan serta menyusun kesimpulan dan mencari hubungan antar aspek yang dipermasalahkan.

D. Perbedaan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir  dengan Pembelajaran Konvensional

Adapun makna dari  pembelajaran konvensional disini adalah pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru yaitu dimanan siswa ditempatkan sebagai obyek dalam pembelajaran yang hanya mendengar, mencatat, setiap apa yang disampaikan oleh guru. Menurut Sanjaya (2009:231) ada beberapa perbedaan  pokok Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir dengan pembelajaran yang selama ini banyak dilakukan guru yaitu :

  1. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir menempatkan peserta didik sebagai obyek belajar, artinya peserta didik beperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menggali pengalamannya sendiri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik ditempatkan sebagai objek belajar yang  berperan sebagai pemberi informasi pasif.
  2. Dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, pembelajarannya dikaitkan dengan kehidupan nyata   melalui penggalian  pengalanam setiap siswa, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat  teoritis dan abstrak.
  3. Dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, perilaku dibangun atas kesadaran sendiri, sesangkan dalam pembelajaran konvensional perilaku dibangun atas proses kebiasaan
  4. Dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan
  5. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah kemampuan berpikir  melalui proses  menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah  penguasaan materi pembelajaran
  6. Dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia  menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya,misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman.
  7. Dalam Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir, pengetahuan yang dimiliki  setiap individu selalu berkemabng sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap peserta didik  bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikontruksikan oleh orang lain.
  8. Tujuan yang ingin dicapai oleh Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir adalah kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk  memperoleh pengetahuan, maka kriteria  keberhasilan ditentukan oleh proses dan hasil belajar, sedangkan pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran hanya diukur dari tes.

E. Hasil Belajar Siswa

Pendapat lain tentang hasil belajar dikemukan  oleh Syamsudin (1983:43) bahwa: “Hasil belajar adalah kecakapan nyata (actual ability) yang menunjukan kepada aspek kecakapan yang segera dapat didemonstrasikan dan diuji  sekarang juga, karena merupakan hasil usaha  dalam belajar yang bersangkutan dengan cara, bahan, dan dalam hal tertentu yang telah dialaminya”.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar  adalah hasil yang diperoleh  siswa  setelah mengalami  belajar dalam  waktu tertentu yang berupa  nilai atau angka.

Hasil belajar dapat pula berupa kemampuan ranah kognitif. Kemampuan kognitif merupakan salah satu  bagian dari hasil belajar. Menurut sulaeman (1984:36) bahwa”hasil belajar siswa adalah hasil-hasil yang dicapai ssiwa dalam suatu periode tertentu setelah dinilai oleh guru yang ditunjukan dalam bentuk angka-angka (nilai-nilai).

Menurut Bloon, dkk dalam Arifin (2009:21) “hasil belajar dapat dikelompokan kedalam tiga domiain, yaitu kognitif,afektif dan psikomotor”. Setiap domain disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan hal yang komplek, dari yang mudah samapai yang sulit dan dari yang kongkrit sampai dengan hal yang abstrak.dalam penelitian ini hasil belajar dibatasi pada domain kognitif saja. Bloom dalam Arifin (2009:21) menjelaskan domain kognitif sebagai berikut: Domain kognitif (cognitive domain) memiliki enam jenjang kemampuan, yaitu:

  1. Pengetahuan (knowledge), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengethaui adanya konsef , prinsip, fakta atau istilah tanpa harus mengerti atau dapat menggunakannya.
  2. Pemahaman (comprehension), yaitu jenjang kemampuan  yang menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang materi pelajaran yang disampaikan guru dan dapat memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-hal lain.
  3. Penerapan (Application), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode, prinsip, teori-teori dalam situasi baru dan konkrit.
  4. Analisi (analysis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen pembentukannya.
  5. Sintesis (synthesis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan, pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu.
  6. Evaluasi (evaluation), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi , keadaan pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu.

Dalam penelitian ini, ranah kognitif dibatasi  hanya mengambil ranah kognitif aspek pemahaman (C2) dan penerapan (C3).

F. Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran  yang diajarkan disekolah yang mana pada hakikatnya kurikulum TIK menyiapkan siswa agar terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan perubahan dalam variasi penggunaan teknologi (http://www.puskur.net).

Bahan kajian TIK untuk jenjang SMP /MTS dalam standar isi mencakup tiga aspek yaitu konsep, pengetahuan, dan operasi dasar,Pengelolaan informasi untuk produktifitas dan pemecahan masalah, eksploitasi dan komunikasi (httt/www.puskur.net)

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas  atau karakteristik  nya masing-masing .begitu juga dengan mata pelajaran TIK .adapun karakteristik mata pelajaran TIK adalah sebagai berikut ;

  1. Teknologi Informasi dan komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer  meliputi  perangkat keras dan perangkat lunak. Namun demikian Teknologi  Informasi dan Komunikasi tidak sekedar terampil, tetapi lebih memerlukan kemampuan intelektual.
  2. Materi Teknologi Informasi dan komunikasi  berupa tema-tema esensial,  aktual  serta global yang berkembang  dalam kemujuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran  yang dapat mewarnai perkembangan perkemabangan perilaku dalam kehidupan.
  3. Tema-tema esensial dalam Teknologi  Informasi dan Komunikasi  merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer,Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika  dan Informatika  itu  sendiri.Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan  kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21  seperti  pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
  4. Materi Teknologi  Informasi dan komunikasi  dikembangkan dengan pendekatan interdisiplier dan multidimentasional.dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai  disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. (http://www.lpmpjabar.go.id).

G. Kesimpulan

Penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa secara signifikan pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) siswa di sekolah. Adapun kesimpulan secara khusus ini terbagi menjadi dua macam yaitu dari aspek pengetahuan dan aspek pemahaman. Penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir dapat meningkatkan kemampuan hasil belajar  siswa pada aspek pengetahuan secara signifikan pada mata pelajaran TIK. Hal ini disebabkan karena Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat disergap dengan baik. Penerapan Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir dalam pembelajaran, juga meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa dalam aspek pemahaman secara signifikan pada mata pelajaran TIK di sekolah.

Daftar Pustaka

Arifin, Zainal, (2009). Evaluasi Pembelajaran. Bandung. Penerbit Remaja Rosdakarya

Djamarah, S. Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Hamalik, Oemar, (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta:PT.Bumi Aksara

Pandia, H. (2004). Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Erlangga

Rusman, (2008). Manajemen Sekolah Bermutu. Bandung: Mulia Mandiri Press.

Sagala, Syaeful, (2006).Konsep dan Makna Pemeblajaran .Bandung:Alfabeta.

Sanjaya,W. (2009). Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Media Grup

Sukmadinata,N.Syaodin.(2006).Kurikulum dan Pembelajaran.Bandung:Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

Zain, Aswin, (2002). Stratgei Belajar Mengajar. Jakarta. PT.Rineka Cipta

 

 

About these ads

Tentang ilmucerdaspendidikan

Saya merupakan seorang anak yang terlahir dari keluarga hebat pada tanggal 10 Juni 1989 di Tasikmalaya. Dan berjuang menjadi seorang pemimpin, pekerja keras, manajer yang sukses demi membahagiakan keluarga dan kerabat dekat khususnya "IBU". Kekurangan saya yaitu suka menunda permasalahan untuk dipecahkan dan terkadang malas.he. Cita-cita saya menjadi mahasiswa berprestasi, mendapatkan beasiswa sampai sarjana, kerja di perusahaan Internasional di bagian pendidikan, melanjutkan S2, menjadi Dosen serta konsultan Pendidikan, lanjut S3 dan Dosen Berprestasi, sehingga Bisa Menjadi Professor dan Direktur Kampus Daerah Tasikmalaya.
Tulisan ini dipublikasikan di Jurnal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s