PRO KONTRA PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)

PRO KONTRA PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)

Oleh

Herdik Sodikin

Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan isu hangat yang banyak diperbincangkan dunia akademisi. Lulusan kualifikasi kependidikan dan non-kependidikan di berbagai Perguruan Tinggi memiliki kesempatan menjadi guru. Dengan mengikuti pendidikan pada lembaga pendidikan, masing-masing Kualifikasi kependidikan selama setengah semester beban 20 sks dan non-kependidikan selama satu tahun beban 42 sks. Bertujuan lulusan memiliki kompetensi guru seperti kepribadian, sosial, profesional dan pedagogik. Jelas lulusan dari kualifikasi pendidikan memiliki kompetensi ini karena pembelajaran di perkuliahan difokuskan menjadi guru profesional ketika terjun di masyarakat.

Pendidikan merupakan salah satu kunci kemajuan suatu bangsa. Kemajuan pendidikan tidak terlepas dari campur tangan guru yang berhadapan langsung dengan siswa. Dalam hal ini, guru harus profesional menjalankan proses belajar mengajar di kelas. Siswa belajar merasa senang dan memahami pembelajaran yang disampaikan. Program PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan) menjadi pilihan. Akan tetapi, kondisi sekarang guru belum mencapai harapan masyarakat. Faktanya, masih ada guru ketika mengajar kurang bisa membawa antusias siswa untuk belajar sehingga merasa bosan, mengantuk dan memilih mendengarkan musik dan memainkan handphone. Bahkan ada guru yang meninggalkan kewajiban untuk kepentingan semata. Guru kurang memiliki jiwa berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengabdian tinggi kepada negara.

Permasalahan ini kecenderungan di akibatkan oleh guru yang tidak memiliki kualifikasi pendidikan. Mereka tidak sepenuhnya tahu peran dan fungsi guru sebagai kunci kesuksesan dunia pendidikan dan negara. Ditangan guru mencetak output generasi muda yang cerdas, kreatif, inovatif dan bermoral tinggi calon pemimpin bangsa. Bisa dibayangkan apabila program PPG ini terus dijalankan oleh pemerintah, akan banyak menghasilkan guru-guru “instan” yang sebelumnya tidak dipersiapkan menjadi guru. Lulusannya pun belum tentu profesional dalam mengajar. Apabila hal ini dibiarkan berlarut dunia pendidikan indonesia tidak akan pernah berkembang. Dan harapan menjadi  negara besar kemudian mengejar pendidikan malaysia hanya impian. Pendidikan kita akan lebih jauh tertinggal disebabkan penciptaan kebijakan maupun program yang kurang menyentuh kebutuhan pendidikan.

Sehingga penulis menyarankan supaya pemerintah mengaji ulang kebijakan program PPG ini sebelum digulirkan secara keseluruhan. Kebermanfaatannya dirasakan kurang dibanding dengan dampak yang akan di timbulkan. Serta tidak efektif dan efisien karena penghamburan waktu, tenaga, pikiran dan biaya. Sebaiknya pemerintah lebih fokus untuk peningkatan mutu lulusan kualifikasi pendidikan. Akhirnya akan menunjang pencapaian tujuan dan kemajuan pendidikan Indonesia.

Tentang ilmucerdaspendidikan

Saya merupakan seorang anak yang terlahir dari keluarga hebat pada tanggal 10 Juni 1989 di Tasikmalaya. Dan berjuang menjadi seorang pemimpin, pekerja keras, manajer yang sukses demi membahagiakan keluarga dan kerabat dekat khususnya "IBU". Kekurangan saya yaitu suka menunda permasalahan untuk dipecahkan dan terkadang malas.he. Cita-cita saya menjadi mahasiswa berprestasi, mendapatkan beasiswa sampai sarjana, kerja di perusahaan Internasional di bagian pendidikan, melanjutkan S2, menjadi Dosen serta konsultan Pendidikan, lanjut S3 dan Dosen Berprestasi, sehingga Bisa Menjadi Professor dan Direktur Kampus Daerah Tasikmalaya.
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s